Senin, 06 Mei 2019

Petualangan Ajak Anak Latihan Puasa Sehari Penuh

Akhirnya, bulan paling mulia itu tiba kembali. Alhamdulillah, masih diberikan kesempatan oleh Allah bertemu dengan bulan yang kemuliaannya setara seribu bulan ini. Tentu tak ada kebahagiaan melebihi itu, apalagi bagi seorang emak-emak yang memiliki buah hati yang telah saatnya dilatih puasa sekuat-kuatnya seperti saya.

Jelas, melatih anak usia 8 tahun agar mau latihan berpuasa sehari penuh bukanlah hal mudah. Meskipun juga bukanlah perkara yang sangat-sangat sulit. Saya sendiri cukup beruntung, jika tahun lalu si jagoan masih perlu dirayu-rayu agar mau latihan puasa, tahun ini malah semangat sendiri untuk puasa penuh.

Tetapi, begitulah.  Namanya juga masih anak-anak. Menjelang siang hari, dia sudah merayu-rayu agar dibolehkan puasa bedug, alias berbuka pas adzan Dhuhur. Lazimnya seorang emak, rengekannya untuk buka puasa terasa menggetarkan hati. Muncul rasa tidak tega juga mendengarnya.

Di sisi lain, saya juga sangat berharap di hari pertama puasa, paling tidak bisa menjadi puasanya yang berkesan karena bisa sehari penuh.  Tetapi rupanya sang jagoan sudah terlihat sekali tak tahan lapar. Hampir saja saya mengiyakan, untungnya tiba-tiba terlintas jalan keluar. Saya terpikir untuk mencobanya.  Saya iming-imingi dia ayam bakar kesukaannya jika saja pantang menyerah sampai magrib. Sayangnya ternyata gagal.  Entah kenapa ia sama sekali tidak tertarik. Kembali saya mencari cara lain. Tetapi  tetap tak mempan.

Nah saat seperti itu saya kira yang membuat kita sebagai emak muda selalu cemas kalau anak nantinya kapok puasa kalau salah mengkondisikan. Karena apa? Nyatanya memang tidak gampang mengajak anak puasa sampai khatam jelang adzan magrib.

Satu hal yang tidak saya duga-duga, ternyata ketika saya mengajaknya bercanda sembari mendongeng, tiba-tiba ia seperti lupa akan niatnya berbuka siang. Bagi emak-emak muda seperti saya, pengalaman ini cukup membuat saya terkesan dengan pengaruh bercanda sembari memberinya dongeng.

Agar motivasinya terus terjaga,saya lanjutkan dengan kesenangannya dibacakan buku-buku cerita.  Sembari saya janjikan besok magrib jalan-jalan buat beli buku-buku cerita yang baru. Memang, sejak masih bayi dia sudah rutin saya bacakan buku-buku dongeng. Syukurlah, rupanya ketika sekarang usia 8 tahun, dia seolah tergila-gila buat beli buku-buku dongeng.
Tak terasa adzan magrib berkumandang.

Alhamdulillah, si jagoan akhirnya sukses berpuasa tuntas di hari pertama. Pelajaran berharga di hari puasa pertama bagi saya,  agar anak mau latihan puasa sampai magrib, adakalanya bukan dengan cara memintanya. Akan tetapi, dengan cara menemaninya berbagi cerita. Bercengkerama. Memenuhi kebutuhan dasarnya untuk ditemani dan dicintai.